A. Latar Belakang SIMRS
Sistem
Informasi Manajemen (SIM) bagi suatu rumah sakit merupakan hal yang sangat
penting untuk segera diterapkan.Hal ini mengingat semakin kompleksnya
permasalahan yang ada dalam data medik pasien maupun data-data administrasi
yang ada di rumah sakit.Namun menyediakan SIM bukanlah hal yang mudah, terutama
jika dikaitkan dengan biaya pengadaan SIM yang relatif sangat besar.
Penerapan sistem
informasi pada suatu rumah sakit memerlukan suatu perencanaan yang matang. Bila
dilakukan secara tergesa-gesa tanpa melakukan perencanaan terlebih dahulu
dikhawatirkan akan memakan biaya yang mahal, kemungkinan ada biaya baru baik
untuk riset kelayakan dan lain-lain akan menambah biaya selanjutnya. Dalam
penerapan sistem informasi maka masalah finansial merupakan faktor yang sangat
penting.
Sistem Informasi
Manajemen terdiri dari tiga kata yaitu sistem, informasi dan manajemen.
Sistem adalah suatu himpunan dari unsur, komponen atau variabel-variabel yang
terorganisasi, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain dan
terpadu. Informasi adalah data yang telah disusun sedemikian rupa, sehingga
bermakna dan bermanfaat karena dapat dikomunikasikan kepada seseorang yang akan
menggunkannya untuk membuat keputusan. Manajemen adalah tindakan memikirkan dan
mencapai hasil-hasil yang diinginkan melalui usaha kelompok yang terdiri dari
tindakan mendayagunakan bakat-bakat manusia dan sumber-sumber daya.Sehingga
Sistem Informasi Manajemen berarti suatu sistem yang menyediakan kepada
pengelola organisasi maupun informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan
tugas-tugas organisasi. Jika lebih spesifik lagi Sistem Informasi Manajemen
Rumah Sakit (SIMRS) adalah suatu prosedur pemrosesan data-data baik data-data umum
Rumah Sakit maupun data-data medik pasien sehingga dapat mendukung proses
pengambilan keputusan manajemen.
Sistem Informasi
Manajemen yang dimaksudkan adalah suatu sistem yang telah berbasiskan komputer
untuk mengolah data-data medik pasien maupun data-data administrasi yang
dimiliki rumah sakit.Selama ini jika kita bicara tentang rumah sakit, yang
paling mudah diingat adalah pelayanannya yang tidak memuaskan ketika melakukan
administrasi atau waktu yang terlalu yang dibutuhkan oleh perawat untuk mencari
data-data medik pasien.
Beberapa hambatan-hambatan yang sering dialami oleh pihak Rumah Sakit yang disebabkan oleh system informasi yang belum dikelola dengan baik adalah pencatatan yang berulang yang menyebabkan penduplikasian data, data yang belum terintegrasi atau masih tersebar, pencatatan data masih dilakukan secara manual sehingga banyak terdapat kesalahan dan informasi terlambat disebarkan. Oleh karena system informasi manajemen untuk Rumah Sakit sangat perlu dilakukan agar dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, dapat menyajikan laporan akurat sehingga dapat memberikan kemudahan dalam pengambilan keputusan oleh pihak manajemen.
Beberapa hambatan-hambatan yang sering dialami oleh pihak Rumah Sakit yang disebabkan oleh system informasi yang belum dikelola dengan baik adalah pencatatan yang berulang yang menyebabkan penduplikasian data, data yang belum terintegrasi atau masih tersebar, pencatatan data masih dilakukan secara manual sehingga banyak terdapat kesalahan dan informasi terlambat disebarkan. Oleh karena system informasi manajemen untuk Rumah Sakit sangat perlu dilakukan agar dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, dapat menyajikan laporan akurat sehingga dapat memberikan kemudahan dalam pengambilan keputusan oleh pihak manajemen.
Sebelum menerapkan
suatu system informasi manajemen untuk Rumah Sakit, kita harus mengetahui kelas
dan status dari Rumah Sakit tersebut.Dimana masing-masing Rumah Sakit memiliki
kebutuhan system informasi berbeda-beda. Status dan kelas Rumah Sakit dapat
dibagi menjadi empat (4), yaitu :
· Rumah Sakit Vertikal
· Rumah Sakit Umum Daerah
· Rumah Sakit Umum Swasta
· Rumah Sakit specialist
Sedangkan untuk
melakukan penerapan sistem informasi rumah sakit dibutuhkan biaya yang
tidak sedikit jumlahnya. Banyak yang harus benar-benar dipersiapkan agar hasil
yang akan diperoleh seperti apa yang diharapkan. Komponen utama untuk menunjang
terlaksananya penerapan sistem informasi yang benar dan sesuai kebutuhan :
· Software (Sistem Informasi Manajemen
Rumah Sakit)
· Hardware (seperangkat komputer)
· Networking (Jaringan LAN, wireless)
· SOP (Standar Operasional Prosedur)
· SDM (Sumber Daya Manusia)
Ketika system
informasi telah disiap diimplementasikan ternyata ada beberapa kendala yang
terjadi di lapangan, antara lain ketidaksiapan pihak Rumah Sakit
dalam menerapkan system informasi yang terintegrasi dan berbasis komputer,
sulitnya merubah pola kerja yang telah terbiasa dengan system manual menjadi
komputerisasi, dan penyajian data yang belum semuanya dalam bentuk elektronik
yang akan memudahkan proses migrasi data.
Secara garis besar, ruang
lingkup DigIS-RS ini bisa digambarkan sebagai berikut:
· Proses registrasi pasien umum dan pasien penjamin selain ASKES
· Proses registrasi pasien ASKES
· Alur pelayanan perawatan pasien rawat jalan
· Alur pelayanan Pasien UGD
· Alur pelayanan pasien di unit penunjang
B. Strategi SIMRS
Strategi
adalah pendekatan pola pikir,perencanaan dan pengambilan keputusandalam situasi
bisnis yang mengharuskanmanajer untuk mengetahui, memahami,menerima dan
mendukung misi organisasi,atau unit di dalam organisasi, danmenghubungkan misi
tersebut denganlingkungan ditempat keputusan-keputusantersebut akan diimplementasikan.“driving force” di balik pola pikir,
perencanaan dan manajemen strategis adalah misiorganisasi.
Manajemen strategis adalah
kegiatan kolektif yang menyangkut pemahaman tentang hakekat danimplikasi dari
perubahan eksternal, kemampuanuntuk mengembangkan strategi yang efektif
dalammenghadapi perubahan, dan kemauan sertakemampuan untuk mengelola secara
aktifmomentum organisasisuatu keharusan bagi manajer rumah sakit, untukmemahami
perubahan-perubahan yang terjadi dilingkungannya; mereka tidak hanya responsif
terhadapperubahan tetapi harus mampu menciptakan masadepanmanajemen strategis
disusun sebagai pendekatan atau filosofi untuk mengelola organisasi yang sangat
kompleks.
Enam elemen dari manajemen strategis pendekatan manajemen strategis
pada organisasi yang kompleks seperti rumah sakit, dalam melaksanakan manajemen
strategis diperlukan pendekatan analitis maupun pendekatan kedaruratan (
emergent/contingency) : – pendekatan analitik atau rasional bergantung pada
pengembangan langkah-langkah atau proses yang logis (linear thinking) – model
emergent, bergantung pada pemikiran intuitif, kepemimpinan, dan pembelajaran
dan merupakan bagian dari manajemen kedua pendekatan ini dibutuhkan dan
dipandang sebagai satu “single model” pendekatan analitis dapat disamakan
dengan “peta”,sedangkan model emergent merupakan “kompas”nya
Model manajemen strategis yang mencakup pendekatan analitis dan emergent
biasanya terdiri dari tiga elemen : pola pikir strategis (strategic thinking)
perencanaan strategis (strategic planning) momentum strategis (strategic
momentum)
1. Strategic thinking
Strategic thinking mengenali kenyataan tentang perubahan mempertanyakan
asumsi dan kegiatan terkini membangun pemahaman sistem melihat kemungkinan masa
depan menciptakan ide-ide baru mempertimbangkan kesesuaian organisasi dengan
lingkungan eksternal. \
Strategic thinking melakukan asesmen terhadap: perubahan kebutuhan dari
stake holders (pemangku kepentingan) perubahan menyangkut teknologi, sosial dan
demografi, ekonomi, politik/perundangan tuntutan kompetitif.
2. Strategic planning
Strategic planning adalah process secara periodik dalam mengembangkan
satuperangkat langkah-langkah dalam organisasi untuk mencapai misi dan visinya
dengan menggunakan pola pikir strategis.
Strategic planning menyiapkan proses langkah demi langkah yang berurutan
untuk menciptakan strategi
· melibatkan kegiatan-kegiatan “periodic group strategic thinking
(brainstorming)”
· membutuhkan data/informasi
· membangun fokus untuk organisasi
· memfasilitasi pengambilan keputusan yang konsisten
· konsensus akan kebutuhan guna penyesuaian organisasi dengan lingkungan eksternal
· hasilnya adalah perencanaan strategis yang terdokumentasi.
3. Strategic momentum
Strategic momentum menyangkut kegiatansehari-hari untuk mengelola strategi
guna pencapaian sasaran strategis dari organisasi. strategic momentum:
· kegiatan nyata untuk mencapai sasaran spesifik– menyangkut proses
pengambilan keputusan dan dampaknya
· menghasilkan budaya dan style
· memunculkan antisipasi, inovasi dan keunggulan
· mengevaluasi kinerja strategi melalui pengendalian
· suatu proses pembelajaran
· bergantung pada peningkatan pola pikir strategis dan perencanaan
Strategis periodikmomentum strategis menjamin filosofi yang berkelanjutan
dalam mengembangkan dan mengatur perencanaan, kegiatan dan pengendalian dari organisasi.
Tata kelola sistem informasi yang baik harus selaras dengan fungsi, visi,
misi dan strategi organisasi. Secara generik fungsi Rumah Sakit (menurut WHO
tahun 1957), memberikan pelayanan kesehatan lengkap kepada masyarakat baik
kuratif maupun rehabilitatif, dimana output layanannya menjangkau pelayanan
keluarga dan lingkungan, Rumah Sakit juga merupakan pusat pelatihan tenaga
kesehatan serta untuk penelitian biososial. Rumah sakit juga merupakan pusat
pelayanan rujukan medik spsialistik dan sub spesialistik dengan fungsi utama
menyediakan dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan
(kuratif) dan pemulihan (rehabilitasi pasien).
Dengan demikian secara umum sistem informasi Rumah Sakit harus selaras
dengan bisnis utama (core bussines) dari Rumah Sakit itu sendiri, terutama
untuk informasi riwayat kesehatan pasien atau rekam medis (tentang indentitas
pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang diberikan
kepada pasien), informasi kegiatan operasional (termasuk informasi sumber daya
manusia, material, alat kesehatan, penelitian serta bank data.
C. Proses Bisnis SIMRS
Pertumbuhan
teknologi komunikasi dan informasi telah menyentuh banyak lapisan kehidupan,
termasuk dalam bidang kesehatan.Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS)
merupakan salah satu bagian penting dalam penyelenggaraan rumah sakit terutama
kaitannya dalam melakukan pencatatan dan pelaporan. Bahkan kewajiban
menyelenggarakan SIMRS ini telah tercantum dalam UU Nomor 44 tahun tentang Rumah
Sakit dan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 82 tahun 2013 tentang SIMRS.
Namun
saat ini masih banyak rumah sakit yang belum menerapkan SIMRS secara
optimal.Permasalahan yang masih terjadi saat ini adalah antrian calon pasien
yang mengantri berjam-jam untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Hal ini
disebabkan pengantrian data dilakukan 2 kali untuk menerbitkan Surat Elegibitas
Peserta (SEP) dan Pendaftaran Rumah Sakit,” ungkap Sekretaris Ditjen Bina Upaya
Kesehatan Dr. dr. Nurshanty Sapada. M.Kes dalam sambutannya pada acara
“Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit Open
Source (SIMRS GOS)” di Bali, Senin (1/9).
Pertemuan
ini membahas berbagai perkembangan sistem informasi manajemen RS, terutama
kaitannya dengan SIMRS GOS dan integrasi sistem informasi JKN (Bridging
System). Saat ini, tim IT Kementerian Kesehatan mengembangkan Sistem Informasi
Rumah Sakit Generik Open Source (SIMRS GOS). Dengan menggunakan SIMRS GOS ini
didapat berbagai manfaat, salah satunya membantu dalam hal bisnis proses
Manajemen Rumah Sakit.
Selain
itu, aplikasi ini dapat diperoleh secara gratis tanpa perlu membayar lisensi
dan dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan pihak Rumah Sakit, Baik
secara mandiri, bersama pusat dan atau pihak ke-3,” jelasnya dihadapan para
peserta yang terdiri dari Tim IT Rumah Sakit Vertikal, Tim IT Rumah Sakit Pilot
Project SIMRS GOS dan Tim IT Rumah Sakit yang telah mengajukan permohonan ke
Kementerian Kesehatan.
Untuk
mendapatkan SIMRS GOS ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh Pihak
Rumah Sakit yaitu mempunyai Infrastruktur IT (Jaringan LAN, Komputer Client dan
Server), dan memiliki minimal 1 (satu) orang SDM IT yang akan dilatih dan yang
memiliki kompetensi dalam bidang pemograman.
Kemudian
kaitannya dengan pelaksanaan Jaminan Kesehatan nasional (JKN), pengembangan
SIMRS ini tentu saja menjadi salah satu bagian penting dalam menyukseskan
program ini.Dalam upaya meningkatkan mutu layanan yang lebih baik kepada
peserta, bahkan saat ini RS – BPJS Kesehatan telah mengembangkan Bridging
System.
Sistem
ini memungkinkan dua sistem berbeda melakukan dua proses pada saat yang sama,
tanpa adanya intervensi satu sistem ke sistem lainnya secara langsung. Sehingga
calon pasien kini tidak perlu mengantri berjam-jam di loket pendaftaran,”
jelasnya.
Maka,
penting sebuah RS untuk terus meningkatkan pelayanan melalui pengembangan
Sistem Informasi RS. Dengan diterapkannya sistem yang optimal, pelayanan akan
lebih lancar, efektif, efisien. Kepastian pembiayaan dan kecepatan klaim akan
semakin baik, serta terjadinya kepuasan konsumen baik pasien, rumah sakit,
maupun stake holder lainnya.
Pengelolaan
data yang sangat besar baik berupa data medis pasien (medical record) maupun
data administrasi yang dimiliki oleh Rumah Sakit mengakibatkan beberapa
hambatan / kendala, antara lain:
· Redudansi Data, pencatatan data yang berulang-ulang menyebabkan duplikasi
data sehingga kapasitas yang di perlukan membengkak dan pelayanan menjadi
lambat, tumpukan filing sehingga memerlukan tempat filing yang cukup luas.
· Unintegrated Data, penyimpanan data yang tidak terpusat menyebabkan data
tidak sinkron, informasi pada masing-masing bagian mempunyai asumsi yang
berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan masing-masing unit /Instalasi.
· Human Error, proses pencatatan yang dilakukan secara manual menyebabkan
terjadinya kesalahan pencatatan yang semakin besar dan tidak singkrong dari
unit satu ke yang lainya dan akan menimbulkan banyaknya perubahan data (efeknya
banyak pelayanan akan berdasarkan sesuka perawat/dokter sehinga dokter /
perawat bisa menambah bahkan mengurangi data/tarif sesuai dengan kondisi saat
itu, misal yang berobat adalah saudaranya maka dengan seenaknya dokter/perawat
memberikan diskon tanpa melalu prosedur yang tepat, sehingga menimbulkan
kerugian pada pihak rumah sakit.
· Terlambatnya Informasi, dikarenakan dalam penyusunan informasi harus
direkap secara manual maka penyajian informasi menjadi terlambat dan kurang
dapat dipercaya kebenarannya.
Untuk mengatasi hambatan–hambatan
dalam pelayanan kesehatan di Rumah Sakit, keberadaan aplikasi Sistem Informasi
Manajemen Rumah Sakit sangat dibutuhkan, sebagai salah satu langkah strategis
dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan memenangkan persaingan bisnis
1. Pelayanan Utama (Front Office)
Setiap
Rumah Sakit memiliki prosedur yang unik (berbeda satu dengan lainnya), tetapi
secara umum/generik memiliki prosedur pelayanan
terintegrasi yang sama yaitu proses pendaftaran, proses rawat (jalan atau inap)
dan proses pulang.
Setiap
Rumah Sakit memiliki prosedur yang unik (berbeda satu dengan lainnya) tetpi
secara umum/generik memiliki prosedur pelayanan terintegrasi yang sama yaitu
proses pendaftaran, proses rawat (jalan atau inap) dan proses pulang.
Data
yang dimasukan pada proses rawat akan digunakan pada proses rawat dan pulang.
Selama proses perawatan, pasien akan menggunakan sumber daya, mendapat layanan
dan tindakan dari unit-unit seperti farmasi, laboratorium, radiologi, gizi,
bedah, invasive, diagnostic, non invasive dan lainnya. Unit tersebut mendapat order/pesanan dari dokter (mialnya berupa
resep untuk farmasi, formulir lab dan sejenisnya) dan perawat. Jadi dokter dan
perawat sebagai aktor/SDM inti pada proses bisnis Rumah Sakit (seluruh order
berasal dari mereka). Karena itu kami menyebutkan inti sistem ini sebagai order
communication system.
2. Pelayanan Administratif (Back Office)
Proses
umum Back Office diantaraya perencanaan, pembelian/pengadaan, pemelihaaraan
stok/inventory, pengelolaan aset, pengelolaan SDM, pengelolaan uang (hutang,
piutang, kas, buku besar, dan lainnya). Proses Back Office ini berhubungan
dengan proses pada Front Office.
Rumah Sakit merupakan
unit yang mengelola sumber daya fisik (manusia, uang, mesin/alat
kesehatan/aset, material seperti obat, reagen, alat tulis kantor, barang habis
pakai dan sejenisnya). Walaupun proses bisnis setiap Rumah Sakit unik tapi
tetap terdapat proses umum, diantaranya perencanaan, pembelian/pengadaan,
pemeliharaan stok/inventory, pengelolaan Aset, pengelolaan SDM, pengelolaan
uang (hutang, piutang, kas, buku besar dan lainnya). Proses back office ini
berhubungan/link dengan proses pada front office, digambarkan berikut ini.
Proses bisnis data tidak terstruktur. Proses-proses bisnis tersebut di atas
yang melibatkan data-data terstruktur, yang dapat dikelola dengan relational
database management system, selain itu terdapat proses bisnis yang melibatkan
data yang tidak terstruktur seperti alur kerja, surat diposisi, email,
manajemen proyek, kolaborasi, team work, manajemen dokumen dan sejenisnya.
D. Arsitektur Infrastruktur SIMRS
Untuk
kebutuhan Sistem informasi RS saja, tetapi juga harus mampu digunakan untuk berbagai hal, seperti jalur telepon IP, CCTV,
Intelegent Building, Medical Equipment dan lain-lain.
Kebutuhan
infrastruktur jaringan komputer kedepan bukan hanya untuk kebutuhan Sistem
informasi RS saja, tetapi juga harus mampu digunakan untuk berbagai hal,
seperti jalur telepon IP, CCTV, Intelegent Building, Medical Equipment dan
lain-lain.
Untuk mendukung
pelayanan tersebut, maka infrastruktur jaringan komunikasi data yang
disyaratkan adalah:
1. Meningkatkan unjuk kerja dan memudahkan untuk melakukan manajemen lalu
lintas data pada jaringan komputer, seperti utilisasi, segmentasi jaringan, dan
security.
2. Membatasi broadcase domain pada jaringan, duplikasi IP address dan
segmentasi jaringan menggunakan VLAN (virtual LAN) untuk setiap gedung dan atau
lantai.
3. Memiliki jalur backbone fiber optik dan backup yang berbeda jalur, pada
keadaan normal jalur backup digunakan untuk memperkuat kinerja
jaringan/redudant, tapi dalam keadaan darurat backup jaringan dapat mengambil
alih kegagalan jaringan.
4. Memanfaatkan peralatan aktif yang ada, baik untuk melengkapi kekurangan
sumber daya maupun sebagai backup
5. Dianjurkan pemasangan oleh vendor jaringan yang tersertifikasi (baik
perkabelan maupun perangkat aktif).
6. Dokumentasi sistem jaringan lengkap (perkabelan, konfigurasi, uji coba, dan
sejenisnya) baik hardcopy maupun softcopy.
7. Mengingat penggunaan jaringan yang komplek kedepan, maka perangkat aktif
mengharuskan pengelolaan bertingkat, seperti adanya:
a. Core switch yang merupakan device vital dalam local area network di Rumah
Sakit dimana core switch ini sebagai bacbone lan dan sentral switch yang
berperan dalam prosessing semua paket dengan memproses atau men-switch traffic
secepat mungkin).
b. Distribution switch yang merupakan suatu device antara untuk keperluan
pendistribusian akses antar core switch dengan access switch pada masing-masing
gedung, dimana antara sebaiknya distribution switch dan core switch terhubung
melalui fiber optic.
E. Arsitektur Data
Arsitektur
Data untuk menghasilkan informasi yang baik, diperlukan data yang homogen.Agar
dapat dihasilkan data homogen maka perlu dibuat arsitektur data yang baik.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam membangun arsitektur data:
Kodefikasi Kodefikasi selain keharusan utk otomatisasi/ komputerisasi, juga
diperlukan untuk integrasi dan penglolaan lebih
lanjut seperti statistik. Mapping Karena sering berbeda keperluan kode- fikasi
data, maka diperlukan mapping data untuk integrasi dan pengelolaan lebih
lanjut, misalnya mapping kodefikasi antara tarif dengan kode perkiraan/chart of account, mapping kode
kabupaten/kota dengan provinsi dan sejenisnya.
F. Arsitektur Aplikasi
Mengingat kompleksnya
proses bisnis pada Rumah Sakit, berikut ini gambaran arsitektur minimal dan
variabel SIMRS yang dapat mengakomodir kebutuhan informasi.
Sistem Informasi
Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan prosedur pemrosesan data rumah sakit
memanfaatkan teknologi informasi yang terintegrasi untuk menghasilkan informasi
yang tepat waktu dan efektif untuk mendukung proses pengambilan keputusan bagi
pihak manajemen, sehingga dalam tahapannya akan membuat beberapa SOP (standard
operating procedure) baru guna menunjang kelancaran penerapan SIMRS yang
tertata dengan baik dan rapi.
1. Front Office
Selama proses
perawatan, pasien akan menggunakan sumber daya, mendapat layanan dan tindakan
dari unit-unit seperti farmasi, laboratorium, radiologi, gizi, bedah,invasive, diagnostic
non invasive dan lainnya. Unit tersebut mendapat order/pesanan dari
dokter (misalnya berupa resep untuk farmasi, formulir lab dan sejenisnya) dan
perawat.
Jadi dokter dan
perawat sebagai aktor/SDM inti pada proses bisnis Rumah Sakit (seluruh order berasal
dari mereka). Karena itu kami menyebutkan inti sistem ini sebagai order
communation system. Front Office SIMRS meliputi:
· Antrian registrasi
· Modul appointment
· Registrasi
· Pelayanan informasi
· Pengaduan
· Pelayanan informasi
· Publik
2. Back office
Rumah Sakit merupakan
unit yang mengelola sumber daya fisik (manusia, uang, mesin/alat
kesehatan/aset, material seperti obat, reagen, alat tulis kantor, barang habis
pakai dan sejenisnya). Walaupun proses bisnis setiap Rumah Sakit unik tapi
tetap terdapat proses umum, diantaranya perencanaan, pembelian/pengadaan,
pemeliharaan stok/inventory, pengelolaan Aset, pengelolaan SDM,
pengelolaan uang (hutang, piutang, kas, buku besar dan lainnya). Proses back
office ini berhubungan/link dengan proses pada front office,
digambarkan berikut ini.
a. Komuniasi dan Kolaborasi
· Komunikasi
One Medic – One
Solutions for Health Information System merupakan suatu aplikasi
piranti lunak yang telah dikembangkan sejak tahun 2008. Protocol
komunikasi yang tersedia telah dilengkapi dengan system keamanan sehingga dapat
menekan berbagai tindakan cyber crime oleh pihak-pihak yang tidak
bertanggung jawab.
Desain aplikasi SIMRS One
Medic berbasis Web dimana pengguna dapat
melakukan integrasi dengan pihak-pihak internal maupun eksternal secara online’.
Manfaat Intergasi secara Online bertujuan untuk mengantisipasi pengulangan
pekerjaan administrasi yang dapat memicu terjadinya human error sehingga
potensi kerugian Rumah Sakit dapat ditekan. Fitur-fitur SIMRS One
Medic sebagai solusi untuk menjawab tantangan masa depan industri pelayanan
medik:
– Security system: modul ini dapat mengatur informasi dan data yang
diperbolehkan untuk diaksesbaik oleh pihak internal maupun eksternal.
Pengaturan tersebut dilakukan selain untuk melindungi kerahasiaan data pasien
juga untuk menghindari penyalahgunaan informasi penting lainnya oleh
pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
– MPI server solutions: adalah sistim komunikasi online yang
dirancang untuk menjembatani komunikasi antar sistem. Aplikasi MPI
server solutions dapat digunakan sebagai alat konfirmasi hak-hak
pasien terhadap jenis tindakan medis dan obat-obatan yang dapat diberikan oleh
Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan Pihak Penjamin.a
– Billing records system: seluruh data tindakan medik dan
obat-obatan yang diberikan pada pasien otomatis terekam secara online dan
dapat diatur sesuai dengan format penagihan yang ditetapkan oleh Pihak
Penjamin. Feature ini dapat mempersingkat proses pekerjaan administrasi penagihan
sehingga dapat menekan angka piutang.
Untuk media komunikasi
informasi antara unit dapat digunakan media komputer yang sudah terintegrasi
dengan jaringan LAN dengan menggunakan aplikasi Messenger atau chating, selain
itu juga sudah ada nya telepon lokal yang membantu hubungan komunikasi antar
unit.Sedangkan untuk akses komunikasi ke luar instansi menggunakan akses
internet yang terintegrasi melalui jaringan Pemerintah Kota.
· Kolaborasi
Salah
satu kolaborasi untuk mengembangkan SIMRS adalah dalam bentuk
Kerjasama Operasional (KSO) atau Build Operational
Transfer (BOT).MenurutPSAK no 39, KSO merupakan bentuk kerjasama
antara 2 belah pihak atau lebih dimana masing-masing pihak sepakat
untuk melakukan suatu usaha bersama dengan menggunakan asset dan/atau
hak usaha yang dimiliki dan secara bersama-sama menanggung resiko atas usaha
tersebut. RSmempunyai peluang pasar berupa kunjungan pasien sedangkan
konsultan/vendor akanbertindak sebagai investor untuk menyediakanteknologi
informasi yang selalu update baik berupa 1)Perangkat keras (Server, PC
&Jaringan), 2)Perangkat lunak (Software) maupun sumber daya
manusia (Brainware) baik tenaga operator ( Data Entry),
Programmer maupun tenaga lainnya.
Manfaat utama dari
kegiatan KSO SIMRS ini adalah adanya jaminan berkelanjutan serta proses
pendampingan/transfer knowledge SIMRS,sehingga akan meminimalkan resiko-resiko
kegagalan implementasi di pihak RS dan akan menekan cost/biaya yang
dikeluarkan untuk investasi teknologi informasi yang senantiasa selalu
update.Pihak rumah sakit berkewajiban untuk menyediakan fasilitas
sarana/prasarana untuk menunjang kegiatan operasional KSO SIMRS tersebut.
Rumah Sakit akan melakukan pengembalian investasi dengan beberapa alternatif,
antara lain pembebanan ke pasienper registrasi/kunjungan/resep atau dana dari
komponen unit Bahan Habis Pakai (BHP),komponen unit Jasa Akomodasi maupun
daritingkat efisiensi operasional RS. Pihak konsultan mempunyai kewajiban
melakukan pengembangan/update, tailor-made(customize) sistem sesuai kebutuhan
RS, Transfer Knowledge dan pendampingan operasional selama masa kerjasama
tersebut.Rumah Sakit akan menerima sistem secara keseluruhan baik modul
aplikasi, source code maupun blue print sistem pada masa akhir kerjasama
sehingga RS diharapkan akan menjadi mandiri dalam mengelola SIMRSpasca masa KSO
tanpa ketergantungan dari pihak konsultan dan bisa menjadi
revenuecenter karena bisa mengembangkan sistem yang ada ke RS yang lain.
Berdasarkan definisi
di atas, maka kita dapat membagi SIMRS menjadi 6 komponen utama guna menunjang
terlaksananya penerapan SIMRS yang benar dan sesuai kebutuhan:
· Software (Sistem Informasi Manajeman Rumah Sakit)
· Hardware (perangkat Keras berupa komputer, printer dan lainnya)
· Networking (jaringan LAN, wireless dan lainnya)
· SOP (Standard Operating Procedure)
· Komitmen (komitmen semua unit / departemen / instalasi yang terkait untuk
sama-sama mejalankan sistem karena sistem tidak akan berjalan tanpa di-input)
· SDM (sumberdaya manusia adalah faktor utama suksesnya sebuah sistem dimana
data di-input dan diproses melalui tenaga SDM tersebut)